Rabu, 18 April 2012

Studi kasus proses pembuatan palu


STUDI KASUS (1)

Perusahaan PT. Mizand  yang bergerak dibidang pembuatan alat-alat perkakas salah satu produk yang paling sering diproduksi adalah palu, sistem pembuatan palu membutuhkan berbagai macam proses kerja bangku, analisislah:
1.      Bagaimana proses pembuatan palu?
2.      Alat-alat apa saja yang digunakan untuk membuat palu?
3.      Apa fungsi alat yang digunakan untuk membuat palu?
4.      APD apa saja yang digunakan dan apa fungsinya?

1.      Proses Pembuatan Palu­
Berikut ini merupakan proses kerja pembuatan palu yang terbuat dari besi pada bagian kepala dan alumunium pada bagian gagang:
a.       Bahan dan alat yang akan digunakan disediakan terlebih dahulu yaitu, bahan: besi dan alumunium dan alat: penggaris, pensil, ragum, gergaji, kikir dan mesin bubut.
b.      Proses pertama yaitu mengukur besi dan alumunium dengan penggaris. Besi berukuran 82 mm dan lebar 19 mm sedangkan alumunium berukuran panjang 180 mm dan diameter 25 mm.
c.       Benda kerja (besi dan alumunium) yang telah diukur ditandai dengan pensil pada ukuran panjang 60 mm untuk besi dan 159 mm untuk alumunium. Setelah itu dipotong dengan menggunakan gergaji sesuai ukurannya masing-masing.
d.      Selanjutnya benda kerja yang telah dipotong sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan (sekarang ukuran besi, panjang 60 mm dan lebar 19 mm, alumunium panjang 159 mm dan diameter tetap 25 mm)
e.       Setelah itu dilakukan penghalusan manual dengan menggunakan kikir untuk besi dan menggunakan mesin bubut untuk menghaluskan permukaan luar pada alumunium.
f.       Besi yang sudah dihaluskan di potong lagi dengan gergaji dari ukuran panjang 60 mm menjadi 57 mm sedangkan untuk ukuran lebar besi tetap. Pada bagian siku besi dengan kemiringan 20 derajat diambil 10 mm dari lebar besi dan 20 mm dari panjang besi, tandai dengan pensil dan dilakukan pemotongan dengan gergaji
g.      Dikarenakan ada bidang besi yang kurang sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan maka untuk meratakan bidang yang kurang sesuai digunakan mesin sekrap. Sekarang ukuran besi sudah rata seperti yang telah ditentukan.
h.      Sama halnya dengan besi, alumunium juga mengalami proses pemotongan tetapi menggunakan alat yang berbeda, bilamana besi dipotong dengan menggunakan gergaji , alumunium di potong atau dikurangi ukurannya dari panjang 159 mm menjadi 151 mm menggunakan mesin bubut dengan cara membubut luar. Sedangkan ukuran diameter dari alumunium tetap 25 mm.
i.        Kemudian proses selanjutnya besi akan dibor menggunakan mesin bor. Pada besi di lubangi bagian tengahnya dengan ukuran diameter 15 mm. Pada alumunium dilakukan pembubutan luar menggunakan mesin bubut dibagian diameter alumunium yang mulanya 19 mm menjadi 15 mm dan pada bagian kedalaman (lebar) alumunium di bubut luar sebanyak 10 mm mengikuti alur dari diameter alumunium.
j.        Pada besi akan dilanjutkan proses pelubangannya dengan mesin bor, ukuran diameter dari besi dib or lagi 3 mm sehingga menjadi 12 mm dari ukuran pada proses sebelumnya. Setelah proses pelubangan selesai besi dikikir agar permukaan luar halus dan bersih dari bercak noda yang didapat selama pengerjaan.
k.      Kemudian pada alumunium dilakukan pembubutan lagi sehingga ukuran bagian atas alumunium menjadi lebih dalam diambil dari ukuran 30 mm pada bagian atas sisi tegak lurus dari bagian lainnya sebesar 10 mm.
l.        Setelah ukuran sesuai pada bagian atas gagang palu (alumunium) akan di buat ulir menggunakan gagang tab dengan ukuran M 11. Pada kepala palu (besi) juga akan dibuat ulir menggunakan mata bor bermata ulir sesuai bagian atas ukuran mata bor ulir M 11 .
m.    Ukuran telah sesuai yang berarti pengerjaan produk palu telah selesai tahap proses kerjanya. Pasangkan kepala palu (besi) dengan gagang Palu (alumunium) dengan mempertemukan bagian yang telah di ulir sehingga kedua bagian tersebut bersatu menjadi sebuah palu.
n.      Proses pengerjaan akhir telah selesai namun ternyata pada saat menggabungkan kedua bagian palu antara kepala dan gagang terdapat ukuran yang lebih dari panjang bagian atas gagang palu. Untuk mengurangi ukuran ini maka kedua bagian palu tersebut dipisahkan lagi, untuk bagian yang terlalu panjang di bubut dengan bubut dalam menggunakan mesin bubut. Sekarang ukurannya telah sesuai, kemudian dilakukan pembuatan tirus pada bagian bawah ulir gagang palu dengan menggunakan mesin bubut yang di setting untuk membuat tirus. Proses akhir selesai, kedua bagian yang telah selesai pengerjaannya dan sesuai ukuran di amplas agar halus. Kemudian setelah itu kedua bagian palu tersebut di pasangkan kembali lalu di warnai krom. Ini menandai bahwa semua proses pembuatan produk palu telah selesai.

2.      Alat-Alat yang Digunakan Pada Proses Pembuatan Palu
a.       Penggaris                         
b.      Pensil
c.       Ragum
d.      Gergaji Besi
e.       Mesin Bubut
f.       Mesin Sekrap
g.      Mesin Bor
h.      Kompresor

3.      Fungsi Alat-Alat yang Digunakan Pada Proses Pembuatan Palu
a.       Penggaris berfungsi untuk mengukur bagian bendadengan tepat dan presisi tinggi.

b.      Pensil berfungsi untuk menandai bagian benda atau bahan yang telah diukur.

c.       Ragum umumnya berfungsi untuk menjepit atau mencekam benda pada saat proses penggergajian, pengkikiran, memahat, dll.

d.      Gergaji besi berfungsi untuk memotong benda yang terbuat dari bahan logam seperti besi, aluminium dll.

e.       Fungsi kikir meratakan dan menghaluskan permukaan benda kerja serta menghilangkan sejumlah kecil material atau bekas tanda pola dan bekas jepitan ragum pada benda kerja, dan Membuat benda kerja sesuai dengan pola yang dirancang secara manual.

f.       Mesin bubut berfungsi untuk membubut permukaan bulat (silindris), membubut penampang benda kerja, membubut ulir, membubut alur, membubut permukaan benda konis dan membubut dalam.  Prinsip gerakan utamanya adalah gerakan berputar. Gerakan inilah yang dimanfaatkan untuk pemotongan logam. 
 
g.      Mesin sekrap adalah mesin perkakas yang mempunyai gerak utama bolak-balik horizontal dan berfungsi untuk merubah bentuk dan ukuran benda kerja sesuai dengan yang dikehendaki atau membuat alur pasak.


h.       Mesin bor adalah suatu jenis mesin perkakas pengerjaan logam yang berfungsi untuk membuat lobang, membesarkan lobang, membuat lobang bertingkat dll dengan cara memutar sekaligus menekan masuk kedalam benda kerja.


4.      APD yang Digunakan Pada Proses Pembuatan Palu
a.       Kacamata
Berfungsi melindungi mata dan bagian sekitar mata dari percikan benda-benda atau material kecil pada saat bekerja.
b.      Sarung Tangan
Melindungi tangan dan daerah sekitarnya dari goresan, benda-benda tajam,bahan kimia, benda yang memiliki suhu tinggi/rendah, serta arus listrik
c.       Masker
Melindungi pernafasan dari benda-benda, partikel kecil, atau debu yang terhirup oleh indera hidung ataupun mulut.
d.      Sepatu Safety atau Pelindung Kaki
Melindungi kaki serta bagian-bagiannya dari terjatuhnya benda berat dan melindungi dari terinjak benda tajam,bahan kimia, benda panas, dan arus listrik.

 

INDUSTRI PLASTIK DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENCEMARAN TANAH


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plastik telah dikenal luas dalam kehidupan manusia. Berbagai barang kebutuhan hidup mulai barang-barang sederhana hingga barang-barang berteknologi terus meningkat menumbuhkan kekhawatiran mengenai dampak buruknya terhadap lingkungan. Awalnya sifat-sifat plastik yang ringan, praktis, ekonomis, dan tahan terhadap pengaruh lingkungan menjadi unggulan, sehingga plastik dapat digunakan untuk menggantikan bahan-bahan lain yang tidak tahan lama. Akan tetapi plastik juga banyak digunakan untuk barang sekali pakai sehingga sampah plastik semakin bertambah, sementara proses degradasi secara alamiah berlangsung sangat lama. Sebagai akibatnya sampah plastik menjadi masalah bagi lingkungan.
Penanganan sampah plastik antara lain dilakukan dengan cara daur ulang, pembakaran (incineration), dan penguburan (landfill). Pembakaran sampah plastik menghasilkan zat-zat beracun yang berbahaya bagi makhluk hidup, sementara cara penguburan tidak efektif karena plastik sangat sulit terdegradasi. Cara daur ulang merupakan alternatif terbaik untuk menangani sampah plastik, tetapi cara ini memerlukan biaya yang tinggi dan hanya dapat mengatasi sebagian kecil sampah plastik sehingga masih menimbulkan pencemaran.
1.2  Tujuan
Penulis menginginkan pembaca mengerti mengenai Industri Plastik dan Dampak yang ditimbulkan terhadap pencemaran tanah secara spesifik, dan juga supaya pembaca mengetahui langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi pencemaran tanah khususnya, karena industri plastik.

 

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Perkembangan
Plastik, sebenarnya merupakan istilah teknis untuk menunjukkan sifat beberapa jenis bahan sintesis yang berarti liat. Dalam perkembangan selanjutnya plastik digunakan untuk menyebut semua bahan sintesis termasuk bahan yang bersifat kaku. Karena sampai saat ini belum ada nama lain yang pas, maka sampai sekarang, meskipun kurang tepat, plastik tetap digunakan sebagai nama bahan-bahan sintesis.
Untuk membedakan jenis plastik sesuai dengan sifatnya, maka kemudian ada istilah plastik thermoplast (bersifat liat dan bisa dibentuk lagi dengan pemanasan) dan plastik thermoset (bersifat kaku dan tidak bisa dibentuk lagi meski dengan pemanasan).
Plastik mulai dikenal semenjak sekitar 3.000 tahun yang lalu dalam kehidupan bangsa Mesir kuno. Saat itu plastik yang dikenal masih bersifat alami, bersumber dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Penggunaannya juga terbatas sebagai bahan pelapis dan bahan dekorasi. Plastik sintetis mulai dirintis pada tahun 1846 oleh Schonbein (Jerman) yang memodifikasi sellulosa kayu dan tumbuhan dengan asam nitrat untuk membuat plastik semi sintesis. Plastik yang 100% sintesis dihasilkan dari penelitian Leo Baekeland (Belgia) selama tahun 1907-1909, yaitu dengan ditemukannya Bakelite. Selanjutnya plastik mengalami perkembangan yang pesat pada tahun 1940-an mula-mula di Jerman, kemudian diikuti Jepang dan negara industri lainnya.
Penggunaan plastik demikian cepat berkembang dan merambah ke berbagai bidang kegiatan dari yang sederhana misalnya untuk tali (rafia), plastik pembungkus sampai ke peralatan modern seperti komponen listrik, mesin, dan berbagai macam peralatan lainnya. Hal ini karena plastik memiliki beberapa keunggulan dibandingkan bahan lainnya, yaitu ringan, tidak menyerap air, tahan karat, dan tidak membusuk. Sehingga hampir tidak ada bahan yang tidak bisa digantikan oleh plastic
Industri produk plastik di Indonesia, khususnya produk barang plastik, elektronika dan peralatan listrik telah berkembang dengan pesat pada kurun waktu lima tahun terakhir. 
Perkembangan yang demikian pesat ini telah mendorong peningkatan impor bahan baku plastik dan produksi substitusi impor sejak tahun 1995. Produk-produk bahan baku plastik yang telah dihasilkan di Indonesia selain produk polymer berupa PVC, Polystyrene, Polyethylene dan Polypropylene, juga telah dihasilkan produk Copolymer seperti Acrylonitrile Butadiene Styrene/ABS dan Styrene Acrylonitrile. Produk industri yang terakhir merupakan bahan baku untuk industri elektronika.
          Kehadiran produk-produk hulu bahan baku plastik tersebut di Indonesia diharapkan dapat memperkuat posisi daya saing industri produk plastik di dalam negeri menyongsong era liberali sasi perdagangan di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2003. Dalam hal ini sinergi antar pemasok dan pengguna bahan baku plastik sangat diperlukan untuk memenangkan persaingan. 
Perkembangan Industri Produk Plastik
Industri produk plastik maupun produk dengan bahan baku plastik di Indonesia telah meningkat pesat baik pada skala regional maupun nasional. Pada skala regional, perdagangan produk plastik dan barang kimia organik telah berkembang dengan pesat. Perkembangan ekspor produk industri ke negara matahari terbit Jepang meningkat  pesat.  Hal serupa dialami pada ekspor ke pasar Amerika Serikat, Jerman dan negara-negara Eropah lainnya.  Total ekspor petroleum products tahun 1995 mencapai 7,95 milyar dollar AS; dan 4,55 milyar dollar AS untuk barang kimia organik, dan 3.07 milyar dollar AS untuk produk plastik pada tahun yang sama. Terlihat dari kasus tiga negara utama di dunia, terdapatnya kecenderungan meningkatnya perdagangan produk plastik antar negara disekitar wilayah regionalnya masing-masing. Dari gambaran ketiga kasus tersebut, dapat disimpulkan telah dan akan berkembangnya gejala globalisasi perdagangan industri produk plastik antar kawasan di Asia Pasifik dan Asia Tenggara serta kawasan Eropah. Kecenderungan mengglobalnya perdagangan serta lokasi produksi produk tersebut tentunya akan menuntut lebih lanjut agar produsen beroperasi secara lebih efisien. Dengan penurunan tingkat proteksi di masa yang akan datang, masing-masing industri di kawasan harus berlomba menjadi produsen yang unggul dengan spesifikasi produk yang handal.  Pada skala nasional  industri produk plastik berkembang dengan menyakinkan sebagaimana ditunjukkan oleh perkembangan ekspor beberapa jenis produk plastik dan pengguna plastik sejak tahun 1990.  Rata-rata perkembangan barang dari plastik bertumbuh pada tingkat 46,3% selama periode 1990-1995, barang alat listrik 34,0% dan barang elektronika 81,6% pada periode yang sama. Peningkatan tajam dari ekspor produk dan pengguna plastik ini dialami oleh produk barang-barang elektronika, khususnya yang banyak menggunakan komponen bahan baku plastik seperti radio video cassete recorder dan komputer.
 Dengan meningkatnya daya beli konsumen khususnya masyarakat Indonesia di daerah perkotaan maka prospek perkembangan industri produk plastik akan semakin cerah.  Sedangkan ditinjau secara nasional, perkembangan produk plastik dapat dilihat dariperkembangan produksinya yang dilaporkan oleh Departemen Perindustrian.  Jenis produksi produk plastik yang memiliki tingkat kapasitas terpasang dan produksi yang besar antara lain: pipa PVC, alat suntik, kantong palstik, komputer, air conditioner, integrated circuit, mesin cuci, rice cooker kabel telpon dan kabel listrik. Perkembangan selama lima tahun menunjukkan peningkatan yang pesat dalam produksi pipa PVC, kantong plastik, televisi, radio, integrated circuit, mesin cuci dan kabel. Perkembangan yang prospektif ini secara langsung mempengaruhi penggunaan bahan baku industri plastik di dalam negeri maupun laju kenaikan impor bahan baku tersebut dari negara-negara lain di dunia. 
Sejak beberapa tahun terakhir, Pemerintah telah mendorong pendalaman struktur industri kimia, khususnya industri petro chemicals yang memprodusir bahan baku plastik. Melalui berbagai kemudahan pembebasan tarif bea masuk, industri hulu petro chemical dirangsang untuk berkembang di dalam negeri, sehingga Indonesia diharapkan dapat memiliki keunggulan dalam produk-produk yang menggunakan komponen bahan baku tersebut.
Struktur Pasar Bahan Baku Plastik
 Bahan baku plastik yang utama, yaitu polyethylene (PE), polypropylene (PP), polystyrene (PS), dan polyvinyl chloride (PVC resin) sudah dapat diproduksi di Indonesia. Polyethylene (PE) hingga saat ini diproduksi oleh PT Petrokimia Nusantara Interindo (PEN), dan PT Chandra Asri Petro chemical Center. Petrokimia Nusantara Interindo merupakan pabrik polyethylene pertama di Indonesia yang sudah beroperasi pada tahun 1993. Proyeknya berkapasitas produksi 400.000 ton pertahun berlokasi di Cilegon, Jawa Barat. Perusahaan tersebut sudah beroperasi sejak tahun 1993 dengan kapasitas produksi sebesar 200.000 ton per tahun, dan pada tahun 1995 kapasitas nya ditingkatkan menjadi 400.000 ton per tahun.  Perusahaan lainnya yang memproduksi polyethylene adalah PT Chandra Asri Petrochemical Center, merupakan satu project olefin terpadu. Proyek olefin center PT Chandra Asri berlokasi di Cilegon, Jawa Barat memiliki kapasitas produksi polyethylene 500.000 ton per tahun. PT Chandra Asri selain memproduksi polyethylene juga menghasilkan ethylene sebesar 663.000 ton sebagai bahan baku polyethylene, propylene 297.000 ton, dan polypropylene 100.000 ton per tahun.
Berkaitan dengan beroperasinya pabrik polyethylene PT Chandra Asri Petrochemical Center, maka kapasitas produksi polyethylene Indonesia pada tahun 1995 mencapai 900.000 ton per tahun. Polypropylene (PP) hingga saat ini diproduksi tiga pabrik yaitu PN Pertamina, PT Tripolyta Indonesia, dan PT Chandra Asri Petrochemical Center.
PN Pertamina pabriknya berlokasi di Plaju, merupakan pabrik polypropylene pertama dengan kapasitas produksi 10.000 ton per tahun. Perusahaan polypropylene lainnya adalah PT Tripolyta Indonesia, memiliki kapasitas produksi 390.000 ton per tahun. Pabriknya yang berlokasi di Serang, mulai berproduksi pada pertengahan tahun 1992 lalu. Polypropylene juga diproduksi oleh PT Chandra Asri Petrochemical Center, dengan kapasitas produksi 100.000 ton per tahun.
Dengan beroperasinya ketiga pabrik tersebut maka total kapasitas produksi polypropylene Indonesia menjadi 500.000 ton per tahun. Polystyrene diproduksi oleh dua perusahaan yaitu, PT Polychem Lindo Inc, PT Pasific Indomas Plastik, dan PT Royal Chemical. Perusahaan mulai berproduksi pada tahun 1985 dan memiliki kapasitas produksi 21.500 ton per tahun, yang terdiri dari jenis high impact polystyrene (HIPS), general purpose polystyrene (GPPS), dan expandable polystyrene (EPS). Sedangkan PT Pacific Indomas Plastic Indonesia, mulai beroperasi pada tahun 1993 berlokasi di Merak, memiliki kapasitas produksi 30.000 ton per tahun. Bahan baku plastik PVC resin Indonesia, hingga saat ini diproduksi oleh empat perusahaan yaitu PT Esten Polymer, PT Asahimas Subentra, PT Standard Toyo Polymer, dan PT Impack Pratama Ind.
Perusahaan PVC resin yang memiliki kapasitas terbesar adalah PT Asahimas Subentra Chemical yaitu sebesar 140.000 ton per tahun, perusahaan ini juga memproduksi sendiri bahan bakunya yaitu vynil chloride monomer (VCM). Sementara itu PT Standar Toyo Polymer yang pabriknya di Merak, berkapasitas 82.000 ton per tahun. Dengan beroperasinya pabrik PVC resin tersebut di atas, maka total kapasitas produksi yang ada saat ini sebesar 264.000 ton per tahun. 
Produksi Bahan Baku Plastik Domestik
 Produksi bahan baku plastik di dalam negeri cenderung meningkat sejalan dengan berkembang nya industri pemakainya, terutama industri barang plastik, industri elektronika dan peralatan listrik. Menurut Departemen Perindustrian dan Perdagangan, produksi polypropylene menunjukan kenaikan 50%, polythylene 79,8%, polystyrene 43,9%, dan PVC resin 13,7% setiap tahun. Pada tahun 1992 produksi polypropylene melonjak menjadi 133.000 ton, dan PT Tri Polyta mulai beroperasi pada tahun 1995.  Produksi polyethylene pertama kali diproduksi oleh PT Petrokimia Nusantara Interindo (PENI) pada tahun 1993 lalu. Produksi polythylene pertama pada tahun 1993 itu sebesar 91.000 ton dan kini telah meningkat menjadi 280.000 pada tahun 1995. Produksi polystyrene Indonesia juga terus meningkat, meski salah satu pabrik menghentikan produksinya, yaitu PT Bentala Agung Pradana. Produksi polystyrene pada tahun 1995 mencapai 85.300 ton atau mengalami peningkatan 63% dibandingkan tahun sebelumnya.  Produksi PVC resin Indonesia juga terus meningkat. Pada tahun 1990 produksinya tercatat sebanyak 161.902 ton kemudian meningkat menjadi 290.274 ton pada tahun 1995. Dalam lima tahun terakhir produksinya meningkat rata-rata sekitar 16,7% setiap tahunnya. 
Impor Bahan Baku Plastik 
 Impor bahan baku plastik di Indonesia masih cukup tinggi walaupun produksi polypropylene dan polyethylene di dalam negeri sudah beroperasi. Padahal pada saat ini, bea masuk bahan baku plastik polypropylene sudah sebesar 40%, masing-masing bea masuknya 20% dan bea masuk tambahnya 20%. Kemudian bea masuk polyethylene yang berlaku saat ini 25%, terdiri dari bea masuk sebesar 5% dan bea masuk tambahan sebesar 20%.
Untuk polystyrene yang berlaku adalah sebesar 30% dan bea masuk PVC adalah sebesar 25%.  Pemasok terbesar polypropylene tahun 1995 adalah negara Korea Selatan (36,5%), Jepang (27,0%), dan Saudi Arabia (14,9)%. Urutan ranking kontribusi pasokan ini banyak dipengaruhi oleh tingkat harga rata-rata yang ditawarkan oleh masing-masing produsen di negara tersebut, dimana produsen dari Korea dapat menawarkan harga yang paling murah, disusul oleh Jepang dan Saudi Arabia. Disamping negara tersebut masih ada negara Singapura, Bahrain dan Malaysia yang memasok pada jumlah yang cukup berarti. Jumlah impor polypropylene sejak tahun  1994 cenderung meningkat tahun 1995, yaitu melalui prosedur impor biasa. Tetapi pada tahun 1996 kembali menurun (39,6%; 85,4%; 61,5%) dan lebih banyak yang melalui prosedur menggunakan fasilitas masterlist. Sedangkan untuk polyethylene kecenderungan memakai prosedur masterlist terus meningkat selama kurun waktu 1994-1996 (81,3%; 62,1% dan 44,3%).  Volume ekspor kedua bahan baku tersebut keluar negeri cukup kecil karena telah menjadi prioritas Pemerintah untuk mendahulukan kepentingan perusahaan di dalam negeri. Memperhatikan pada gambaran pasokan dan kebutuhan bahan baku plastik ini dapat disimpulkan bahwa kondisi kebutuhan masih ada diatas pasokan produksi dari produsen di dalam negeri
B.   Dampak Indusrti Plastik Terhadap Pencemaran Tanah
Sifat-sifat yang menjadikan plastik memiliki keunggulan dibandingkan bahan lain, sekaligus juga menjadikan plastik sebagai sumber masalah yang rumit. Akibat sifatnya yang tidak bisa membusuk, tidak terurai secara alami, dan tidak menyerap air, menyebabkan sampah plastik dalam a
Aktifitas sehari-hari semakin meluas, seperti untuk perlengkapan rumah tangga, peralatan sekolah, dan kantor, mainan anak-anak serta berbagai bentuk kemasan. Disamping menimbulkan pencemaran secara fisik, beberapa bahan plastik tertentu juga menyebabkan pencemaran kimiawi.
Secara fisik, sampah plastik bisa menyumbat saluran air, mengotori lingkungan, mengakibatkan pendangkalan sungai dan mengganggu struktur tanah. Sampah plastik yang terkumpul dalam tanah akan membentuk lapisan kedap air, sehingga mengganggu masuknya air ke dalam tanah. Gangguan masuknya air ke dalam tanah bisa mengakibatkan banjir di musim hujan. Sementara jika lapisan sampah palstik berada dibawah tanah yang ditumbuhi tanaman akan menyebabkan tanaman tersebut kesulitan untuk mendapatkan air sehingga pertumbuhannya terganggu.
Pencemaran plastik secar kimiawi akan terjadi bila ada pembakaran sampah plastik. Bahan plastik yang mengandung klorin, misalnya polivinilklorida (PVC) jika dibakar akan mengeluarkan asap pedas yang mengandung bahan-bahan organoklorin yang membahayakan kesehatan, seperti gas hydrogen klorida (HCl) dan dioksin.
Gas HCl bila terhisap paru-paru bersama butir-butir air yang ada di udara akan menghsilkan asam klorida cair yang sangat korosif. HCl juga bisa bereaksi dengan bahan-bahn campuran dalam PVC yang ikut terurai ketika dibakar.
Bagi yang kebetulan menggunakan kosmetik, asap pembakaran kosmetik bisa membahayakan karena bisa bereaksi dengan bahan yang terkandung dalam kosmetika yang digunakan. Seperti pada kebakaran yang pernah terjadi di Beverly Hill tahun 1977. Asap putih yang keluar dari bahn PVC yang terbakar bereaksi dengan pewarna kuku, sehingga orang-orang yang kebetulan menggunakan pewarna kuku menderita luka-luka di kukunya.
Bahan berbahaya lain yang dihasilkan dari pembakaran plastik PVC adalah dioksin yang bisa merusak kesehatan dan diduga bisa menyebabkan penyakit kanker. Dioksin yang masuk ke dalam tubuh, sekalipun dengan dosis rendah, bisa menimbulkan gangguan system reproduksi, system kekebalan dan gangguan hormonal. Dioksin dalam tubuh ternak disimpan dalam lemak, sehingga jika manusia menkonsumsi daging ternak, terutama lemaknya akan terkontaminasi dioksin.
Dalam penelitian menggunakan binatang percobaan, terbukti dioksin bisa menyebabkan penyakit kanker. Belum bisa dipastikan apakah dioksin juga menyebabkan penyakit kanker pada manusia. Karena penelitian terhadap para veteran perang Vietnam tidak ditemukan kasus kanker. Padahal dalam perang tersebut digunakan herbisida Orange Agent yang mengandung dioksin untuk merontokkan daun-daun pohon huatn tropis agar tidak dijadikan tempat persembunyian gerilyawan Vietcong.
Sebagaimana yang diketahui, plastik yang mulai digunakan sekitar 50 tahun yang silam, kini telah menjadi barang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang.
Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.
Kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu bara mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Semakin banyak penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam tersebut.
Fakta tentang bahan pembuat plastik, (umumnya polimer polivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur mirip DDT. Serta kantong plastik yang sulit untuk diurai oleh tanah hingga membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun. Akan memberikan akibat antara lain:
·         Tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah.
·         Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing.
·         PCB yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang maupun tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.
·         Kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah.
·         Menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu meyuburkan tanah.
·         Kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun.
·         Hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik.
·         Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya.
·         Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya.
·         Pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir.
Sebagai tambahan pemahaman, saya beberkan beberapa fakta yang berkaitan dengan sampah plastik dan lingkungan:
·         Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang laut di Pulau Midway, Lautan Pacific
·         Sekitar 80% sampah dilautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah plastik.
·         Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat  46,000 sampah plastik mengambang di lautan.
·         Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya.
·         banyak penyu di kepulauan seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.
Untuk menanggulangi sampah plastik beberapa pihak mencoba untuk membakarnya. Tetapi proses pembakaran yang kurang sempurna dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna maka akan menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin ini manusia akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi.
C.   Solusi
Sampah anorganik yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Cara penanggulangan yang terbaik adalah dengan pendaur ulangan sampah. Selain itu, penggunaan plastik sebagai bahan pengemasan atau pembungkus dapat diganti dengan bahan yang ramah terhadap lingkungan seperti  dengan menggunakan daun pisang atau daun jati.

 BAB 3
PENUTUP
            Sebagian besar kekayaan kita diperoleh dari tanah, kehidupan di bumi ini sangat bergantung pada tanah. Tumbuhan memperoleh air dan mineral dari tanah.makanan yang diperleh oleh mahluk hidup juga banyak yang berasal dari tanah, seperti sayur sayuran dan buah buahan.
            Semua bahan yang kita perlukan dalam memenuhi kebutuhan dapat diperoleh dari tanah secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu pelestariannya harus dijaga bersama untuk kelangsungan hidup di masa yang akan datang.