BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plastik telah dikenal luas dalam
kehidupan manusia. Berbagai barang kebutuhan hidup mulai barang-barang
sederhana hingga barang-barang berteknologi terus meningkat menumbuhkan
kekhawatiran mengenai dampak buruknya terhadap lingkungan. Awalnya sifat-sifat
plastik yang ringan, praktis, ekonomis, dan tahan terhadap pengaruh lingkungan
menjadi unggulan, sehingga plastik dapat digunakan untuk menggantikan
bahan-bahan lain yang tidak tahan lama. Akan tetapi plastik juga banyak
digunakan untuk barang sekali pakai sehingga sampah plastik semakin bertambah,
sementara proses degradasi secara alamiah berlangsung sangat lama. Sebagai
akibatnya sampah plastik menjadi masalah bagi lingkungan.
Penanganan sampah plastik antara lain
dilakukan dengan cara daur ulang, pembakaran (incineration), dan
penguburan (landfill). Pembakaran sampah plastik menghasilkan zat-zat
beracun yang berbahaya bagi makhluk hidup, sementara cara penguburan tidak
efektif karena plastik sangat sulit terdegradasi. Cara daur ulang merupakan
alternatif terbaik untuk menangani sampah plastik, tetapi cara ini memerlukan
biaya yang tinggi dan hanya dapat mengatasi sebagian kecil sampah plastik
sehingga masih menimbulkan pencemaran.
1.2 Tujuan
Penulis menginginkan pembaca mengerti mengenai
Industri Plastik dan Dampak yang ditimbulkan terhadap pencemaran tanah secara
spesifik, dan juga supaya pembaca mengetahui langkah yang harus dilakukan untuk
mengatasi pencemaran tanah khususnya, karena industri plastik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan
Plastik,
sebenarnya merupakan istilah teknis untuk menunjukkan sifat beberapa jenis
bahan sintesis yang berarti liat. Dalam perkembangan selanjutnya plastik
digunakan untuk menyebut semua bahan sintesis termasuk bahan yang bersifat
kaku. Karena sampai saat ini belum ada nama lain yang pas, maka sampai
sekarang, meskipun kurang tepat, plastik tetap digunakan sebagai nama
bahan-bahan sintesis.
Untuk
membedakan jenis plastik sesuai dengan sifatnya, maka kemudian ada istilah
plastik thermoplast (bersifat liat dan bisa dibentuk lagi dengan
pemanasan) dan plastik thermoset (bersifat kaku dan tidak bisa dibentuk
lagi meski dengan pemanasan).
Plastik
mulai dikenal semenjak sekitar 3.000 tahun yang lalu dalam kehidupan bangsa
Mesir kuno. Saat itu plastik yang dikenal masih bersifat alami, bersumber dari
tumbuh-tumbuhan dan hewan. Penggunaannya juga terbatas sebagai bahan pelapis
dan bahan dekorasi. Plastik sintetis mulai dirintis pada tahun 1846 oleh
Schonbein (Jerman) yang memodifikasi sellulosa kayu dan tumbuhan dengan asam
nitrat untuk membuat plastik semi sintesis. Plastik yang 100% sintesis
dihasilkan dari penelitian Leo Baekeland (Belgia) selama tahun 1907-1909, yaitu
dengan ditemukannya Bakelite. Selanjutnya plastik mengalami perkembangan
yang pesat pada tahun 1940-an mula-mula di Jerman, kemudian diikuti Jepang dan
negara industri lainnya.
Penggunaan
plastik demikian cepat berkembang dan merambah ke berbagai bidang kegiatan dari
yang sederhana misalnya untuk tali (rafia), plastik pembungkus sampai ke
peralatan modern seperti komponen listrik, mesin, dan berbagai macam peralatan
lainnya. Hal ini karena plastik memiliki beberapa keunggulan dibandingkan bahan
lainnya, yaitu ringan, tidak menyerap air, tahan karat, dan tidak membusuk.
Sehingga hampir tidak ada bahan yang tidak bisa digantikan oleh plastic
Industri produk plastik di
Indonesia, khususnya produk barang plastik, elektronika dan peralatan listrik
telah berkembang dengan pesat pada kurun waktu lima tahun terakhir.
Perkembangan yang demikian
pesat ini telah mendorong peningkatan impor bahan baku plastik dan produksi
substitusi impor sejak tahun 1995. Produk-produk bahan baku plastik yang telah
dihasilkan di Indonesia selain produk polymer berupa PVC, Polystyrene,
Polyethylene dan Polypropylene, juga telah dihasilkan produk Copolymer seperti
Acrylonitrile Butadiene Styrene/ABS dan Styrene Acrylonitrile. Produk industri
yang terakhir merupakan bahan baku untuk industri elektronika.
Kehadiran produk-produk hulu bahan baku plastik tersebut di Indonesia
diharapkan dapat memperkuat posisi daya saing industri produk plastik di dalam
negeri menyongsong era liberali sasi perdagangan di kawasan Asia Tenggara pada
tahun 2003. Dalam hal ini sinergi antar pemasok dan pengguna bahan baku plastik
sangat diperlukan untuk memenangkan persaingan.
Perkembangan
Industri Produk Plastik
Industri produk plastik
maupun produk dengan bahan baku plastik di Indonesia telah meningkat pesat baik
pada skala regional maupun nasional. Pada skala regional, perdagangan produk
plastik dan barang kimia organik telah berkembang dengan pesat. Perkembangan
ekspor produk industri ke negara matahari terbit Jepang meningkat
pesat. Hal serupa dialami pada ekspor ke pasar Amerika Serikat,
Jerman dan negara-negara Eropah lainnya. Total ekspor petroleum products
tahun 1995 mencapai 7,95 milyar dollar AS; dan 4,55 milyar dollar AS untuk
barang kimia organik, dan 3.07 milyar dollar AS untuk produk plastik pada tahun
yang sama. Terlihat dari kasus tiga negara utama di dunia, terdapatnya kecenderungan
meningkatnya perdagangan produk plastik antar negara disekitar wilayah
regionalnya masing-masing. Dari gambaran ketiga kasus tersebut, dapat
disimpulkan telah dan akan berkembangnya gejala globalisasi perdagangan
industri produk plastik antar kawasan di Asia Pasifik dan Asia Tenggara serta
kawasan Eropah. Kecenderungan mengglobalnya perdagangan serta lokasi produksi
produk tersebut tentunya akan menuntut lebih lanjut agar produsen beroperasi
secara lebih efisien. Dengan penurunan tingkat proteksi di masa yang akan
datang, masing-masing industri di kawasan harus berlomba menjadi produsen yang
unggul dengan spesifikasi produk yang handal. Pada skala nasional
industri produk plastik berkembang dengan menyakinkan sebagaimana
ditunjukkan oleh perkembangan ekspor beberapa jenis produk plastik dan pengguna
plastik sejak tahun 1990. Rata-rata perkembangan barang dari plastik
bertumbuh pada tingkat 46,3% selama periode 1990-1995, barang alat listrik
34,0% dan barang elektronika 81,6% pada periode yang sama. Peningkatan
tajam dari ekspor produk dan pengguna plastik ini dialami oleh produk
barang-barang elektronika, khususnya yang banyak menggunakan komponen bahan
baku plastik seperti radio video cassete recorder dan komputer.
Dengan meningkatnya
daya beli konsumen khususnya masyarakat Indonesia di daerah perkotaan maka
prospek perkembangan industri produk plastik akan semakin cerah.
Sedangkan ditinjau secara nasional, perkembangan produk plastik dapat dilihat
dariperkembangan produksinya yang dilaporkan oleh Departemen
Perindustrian. Jenis produksi produk plastik yang memiliki tingkat
kapasitas terpasang dan produksi yang besar antara lain: pipa PVC, alat suntik,
kantong palstik, komputer, air conditioner, integrated circuit, mesin cuci,
rice cooker kabel telpon dan kabel listrik. Perkembangan selama lima tahun
menunjukkan peningkatan yang pesat dalam produksi pipa PVC, kantong plastik,
televisi, radio, integrated circuit, mesin cuci dan kabel. Perkembangan yang
prospektif ini secara langsung mempengaruhi penggunaan bahan baku industri
plastik di dalam negeri maupun laju kenaikan impor bahan baku tersebut dari
negara-negara lain di dunia.
Sejak beberapa tahun
terakhir, Pemerintah telah mendorong pendalaman struktur industri kimia,
khususnya industri petro chemicals yang memprodusir bahan baku plastik. Melalui
berbagai kemudahan pembebasan tarif bea masuk, industri hulu petro chemical
dirangsang untuk berkembang di dalam negeri, sehingga Indonesia diharapkan
dapat memiliki keunggulan dalam produk-produk yang menggunakan komponen bahan
baku tersebut.
Struktur Pasar Bahan Baku Plastik
Bahan baku plastik
yang utama, yaitu polyethylene (PE), polypropylene (PP), polystyrene (PS), dan
polyvinyl chloride (PVC resin) sudah dapat diproduksi di Indonesia.
Polyethylene (PE) hingga saat ini diproduksi oleh PT Petrokimia Nusantara
Interindo (PEN), dan PT Chandra Asri Petro chemical Center. Petrokimia
Nusantara Interindo merupakan pabrik polyethylene pertama di Indonesia yang
sudah beroperasi pada tahun 1993. Proyeknya berkapasitas produksi 400.000 ton
pertahun berlokasi di Cilegon, Jawa Barat. Perusahaan tersebut sudah beroperasi
sejak tahun 1993 dengan kapasitas produksi sebesar 200.000 ton per tahun, dan
pada tahun 1995 kapasitas nya ditingkatkan menjadi 400.000 ton per tahun.
Perusahaan lainnya yang memproduksi polyethylene adalah PT Chandra Asri
Petrochemical Center, merupakan satu project olefin terpadu. Proyek olefin
center PT Chandra Asri berlokasi di Cilegon, Jawa Barat memiliki kapasitas
produksi polyethylene 500.000 ton per tahun. PT Chandra Asri selain memproduksi
polyethylene juga menghasilkan ethylene sebesar 663.000 ton sebagai bahan baku
polyethylene, propylene 297.000 ton, dan polypropylene 100.000 ton per tahun.
Berkaitan dengan
beroperasinya pabrik polyethylene PT Chandra Asri Petrochemical Center, maka
kapasitas produksi polyethylene Indonesia pada tahun 1995 mencapai 900.000 ton
per tahun. Polypropylene (PP) hingga saat ini diproduksi tiga pabrik yaitu PN
Pertamina, PT Tripolyta Indonesia, dan PT Chandra Asri Petrochemical Center.
PN Pertamina pabriknya
berlokasi di Plaju, merupakan pabrik polypropylene pertama dengan kapasitas
produksi 10.000 ton per tahun. Perusahaan polypropylene lainnya adalah PT
Tripolyta Indonesia, memiliki kapasitas produksi 390.000 ton per tahun.
Pabriknya yang berlokasi di Serang, mulai berproduksi pada pertengahan tahun
1992 lalu. Polypropylene juga diproduksi oleh PT Chandra Asri Petrochemical
Center, dengan kapasitas produksi 100.000 ton per tahun.
Dengan beroperasinya
ketiga pabrik tersebut maka total kapasitas produksi polypropylene Indonesia
menjadi 500.000 ton per tahun. Polystyrene diproduksi oleh dua perusahaan
yaitu, PT Polychem Lindo Inc, PT Pasific Indomas Plastik, dan PT Royal Chemical.
Perusahaan mulai berproduksi pada tahun 1985 dan memiliki kapasitas produksi
21.500 ton per tahun, yang terdiri dari jenis high impact polystyrene (HIPS),
general purpose polystyrene (GPPS), dan expandable polystyrene (EPS). Sedangkan
PT Pacific Indomas Plastic Indonesia, mulai beroperasi pada tahun 1993
berlokasi di Merak, memiliki kapasitas produksi 30.000 ton per
tahun. Bahan baku plastik PVC resin Indonesia, hingga saat ini diproduksi
oleh empat perusahaan yaitu PT Esten Polymer, PT Asahimas Subentra, PT Standard
Toyo Polymer, dan PT Impack Pratama Ind.
Perusahaan PVC resin yang
memiliki kapasitas terbesar adalah PT Asahimas Subentra Chemical yaitu sebesar
140.000 ton per tahun, perusahaan ini juga memproduksi sendiri bahan bakunya
yaitu vynil chloride monomer (VCM). Sementara itu PT Standar Toyo Polymer yang
pabriknya di Merak, berkapasitas 82.000 ton per tahun. Dengan beroperasinya
pabrik PVC resin tersebut di atas, maka total kapasitas produksi yang ada saat
ini sebesar 264.000 ton per tahun.
Produksi Bahan Baku Plastik Domestik
Produksi bahan baku
plastik di dalam negeri cenderung meningkat sejalan dengan berkembang nya
industri pemakainya, terutama industri barang plastik, industri elektronika dan
peralatan listrik. Menurut Departemen Perindustrian dan Perdagangan, produksi
polypropylene menunjukan kenaikan 50%, polythylene 79,8%, polystyrene 43,9%,
dan PVC resin 13,7% setiap tahun. Pada tahun 1992 produksi polypropylene
melonjak menjadi 133.000 ton, dan PT Tri Polyta mulai beroperasi pada tahun 1995.
Produksi polyethylene pertama kali diproduksi oleh PT Petrokimia Nusantara
Interindo (PENI) pada tahun 1993 lalu. Produksi polythylene pertama pada tahun
1993 itu sebesar 91.000 ton dan kini telah meningkat menjadi 280.000 pada tahun
1995. Produksi polystyrene Indonesia juga terus meningkat, meski salah satu
pabrik menghentikan produksinya, yaitu PT Bentala Agung Pradana. Produksi
polystyrene pada tahun 1995 mencapai 85.300 ton atau mengalami peningkatan 63%
dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi PVC resin Indonesia juga terus
meningkat. Pada tahun 1990 produksinya tercatat sebanyak 161.902 ton kemudian
meningkat menjadi 290.274 ton pada tahun 1995. Dalam lima tahun terakhir
produksinya meningkat rata-rata sekitar 16,7% setiap tahunnya.
Impor Bahan Baku Plastik
Impor bahan baku
plastik di Indonesia masih cukup tinggi walaupun produksi polypropylene dan
polyethylene di dalam negeri sudah beroperasi. Padahal pada saat ini, bea masuk
bahan baku plastik polypropylene sudah sebesar 40%, masing-masing bea masuknya
20% dan bea masuk tambahnya 20%. Kemudian bea masuk polyethylene yang berlaku
saat ini 25%, terdiri dari bea masuk sebesar 5% dan bea masuk tambahan sebesar
20%.
Untuk polystyrene yang
berlaku adalah sebesar 30% dan bea masuk PVC adalah sebesar 25%. Pemasok
terbesar polypropylene tahun 1995 adalah negara Korea Selatan (36,5%), Jepang
(27,0%), dan Saudi Arabia (14,9)%. Urutan ranking kontribusi pasokan ini banyak
dipengaruhi oleh tingkat harga rata-rata yang ditawarkan oleh masing-masing
produsen di negara tersebut, dimana produsen dari Korea dapat menawarkan harga
yang paling murah, disusul oleh Jepang dan Saudi Arabia. Disamping negara
tersebut masih ada negara Singapura, Bahrain dan Malaysia yang memasok pada
jumlah yang cukup berarti. Jumlah impor polypropylene sejak tahun
1994 cenderung meningkat tahun 1995, yaitu melalui prosedur impor biasa. Tetapi
pada tahun 1996 kembali menurun (39,6%; 85,4%; 61,5%) dan lebih banyak yang
melalui prosedur menggunakan fasilitas masterlist. Sedangkan untuk polyethylene
kecenderungan memakai prosedur masterlist terus meningkat selama kurun waktu
1994-1996 (81,3%; 62,1% dan 44,3%). Volume ekspor kedua bahan baku
tersebut keluar negeri cukup kecil karena telah menjadi prioritas Pemerintah untuk
mendahulukan kepentingan perusahaan di dalam negeri. Memperhatikan pada
gambaran pasokan dan kebutuhan bahan baku plastik ini dapat disimpulkan bahwa
kondisi kebutuhan masih ada diatas pasokan produksi dari produsen di dalam
negeri
B.
Dampak
Indusrti Plastik Terhadap Pencemaran Tanah
Sifat-sifat yang menjadikan
plastik memiliki keunggulan dibandingkan bahan lain, sekaligus juga menjadikan
plastik sebagai sumber masalah yang rumit. Akibat sifatnya yang tidak bisa
membusuk, tidak terurai secara alami, dan tidak menyerap air, menyebabkan
sampah plastik dalam a
Aktifitas
sehari-hari semakin meluas, seperti untuk perlengkapan rumah tangga, peralatan
sekolah, dan kantor, mainan anak-anak serta berbagai bentuk kemasan. Disamping
menimbulkan pencemaran secara fisik, beberapa bahan plastik tertentu juga
menyebabkan pencemaran kimiawi.
Secara fisik, sampah plastik bisa
menyumbat saluran air, mengotori lingkungan, mengakibatkan pendangkalan sungai
dan mengganggu struktur tanah. Sampah plastik yang terkumpul dalam tanah akan
membentuk lapisan kedap air, sehingga mengganggu masuknya air ke dalam tanah.
Gangguan masuknya air ke dalam tanah bisa mengakibatkan banjir di musim hujan.
Sementara jika lapisan sampah palstik berada dibawah tanah yang ditumbuhi
tanaman akan menyebabkan tanaman tersebut kesulitan untuk mendapatkan air
sehingga pertumbuhannya terganggu.
Pencemaran plastik secar kimiawi
akan terjadi bila ada pembakaran sampah plastik. Bahan plastik yang mengandung
klorin, misalnya polivinilklorida (PVC) jika dibakar akan mengeluarkan asap
pedas yang mengandung bahan-bahan organoklorin yang membahayakan kesehatan,
seperti gas hydrogen klorida (HCl) dan dioksin.
Gas HCl bila terhisap paru-paru
bersama butir-butir air yang ada di udara akan menghsilkan asam klorida cair
yang sangat korosif. HCl juga bisa bereaksi dengan bahan-bahn campuran dalam
PVC yang ikut terurai ketika dibakar.
Bagi yang kebetulan menggunakan
kosmetik, asap pembakaran kosmetik bisa membahayakan karena bisa bereaksi
dengan bahan yang terkandung dalam kosmetika yang digunakan. Seperti pada
kebakaran yang pernah terjadi di Beverly Hill tahun 1977. Asap putih yang
keluar dari bahn PVC yang terbakar bereaksi dengan pewarna kuku, sehingga
orang-orang yang kebetulan menggunakan pewarna kuku menderita luka-luka di
kukunya.
Bahan berbahaya lain yang
dihasilkan dari pembakaran plastik PVC adalah dioksin yang bisa merusak
kesehatan dan diduga bisa menyebabkan penyakit kanker. Dioksin yang masuk ke
dalam tubuh, sekalipun dengan dosis rendah, bisa menimbulkan gangguan system
reproduksi, system kekebalan dan gangguan hormonal. Dioksin dalam tubuh ternak
disimpan dalam lemak, sehingga jika manusia menkonsumsi daging ternak, terutama
lemaknya akan terkontaminasi dioksin.
Dalam penelitian menggunakan
binatang percobaan, terbukti dioksin bisa menyebabkan penyakit kanker. Belum
bisa dipastikan apakah dioksin juga menyebabkan penyakit kanker pada manusia.
Karena penelitian terhadap para veteran perang Vietnam tidak ditemukan kasus
kanker. Padahal dalam perang tersebut digunakan herbisida Orange Agent
yang mengandung dioksin untuk merontokkan daun-daun pohon huatn tropis agar
tidak dijadikan tempat persembunyian gerilyawan Vietcong.
Sebagaimana yang diketahui, plastik
yang mulai digunakan sekitar 50 tahun yang silam, kini telah menjadi barang
yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Diperkirakan ada 500 juta
sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini
berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya,
diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang.
Konsumsi berlebih terhadap plastik,
pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari
senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable).
Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat
terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat
mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.
Kantong plastik terbuat dari
penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu
bara mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Semakin banyak
penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam
tersebut.
Fakta tentang bahan pembuat plastik,
(umumnya polimer polivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB)
yang mempunyai struktur mirip DDT. Serta kantong plastik yang sulit untuk
diurai oleh tanah hingga membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun. Akan
memberikan akibat antara lain:
·
Tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah.
·
Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan
membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing.
·
PCB yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang maupun
tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.
·
Kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah.
·
Menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi
udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu meyuburkan
tanah.
·
Kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan
akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun.
·
Hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik.
·
Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing laut menganggap
kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat
mencernanya.
·
Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap
tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya.
·
Pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan
mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang
menyebabkan banjir.
Sebagai tambahan pemahaman, saya beberkan beberapa fakta yang berkaitan
dengan sampah plastik dan lingkungan:
·
Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang
laut di Pulau Midway, Lautan Pacific
·
Sekitar 80% sampah dilautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah
plastik.
·
Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap
mil persegi terdapat 46,000 sampah plastik mengambang di lautan.
·
Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut,
100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya.
·
banyak penyu di kepulauan seribu yang mati karena
memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.
Untuk menanggulangi sampah plastik
beberapa pihak mencoba untuk membakarnya. Tetapi proses pembakaran yang kurang
sempurna dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna maka akan
menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin ini manusia
akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem
syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi.
C.
Solusi
Sampah anorganik yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Cara penanggulangan
yang terbaik adalah dengan pendaur ulangan sampah. Selain itu, penggunaan
plastik sebagai bahan pengemasan atau pembungkus dapat diganti dengan bahan
yang ramah terhadap lingkungan seperti
dengan menggunakan daun pisang atau daun jati.
BAB 3
PENUTUP
Sebagian
besar kekayaan kita diperoleh dari tanah, kehidupan di bumi ini sangat
bergantung pada tanah. Tumbuhan memperoleh air dan mineral dari tanah.makanan
yang diperleh oleh mahluk hidup juga banyak yang berasal dari tanah, seperti
sayur sayuran dan buah buahan.
Semua
bahan yang kita perlukan dalam memenuhi kebutuhan dapat diperoleh dari tanah
secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu pelestariannya harus dijaga
bersama untuk kelangsungan hidup di masa yang akan datang.